Bagaimana membangun leadership K3

Persoalan terbesar dalam penerapan K3 di tempat kerja sebenarnya bukanlah masalah finansial tapi pada masalah kemampuan sumber daya manusia yang ada di lingkungan tempat kerja tersebut.Kenapa demikian ? Karena memang peran SDM selalu muncul dalam setiap insiden, entah itu peran langsung ataupun peran tak langsung.

Ada beberapa teori yang mengaitkan kemampuan ini dengan daya leadership dalam diri seseorang. Tapi disini penulis tidak menguraikan hal tersebut namun yang ingin ditekankan penulis adalah bagaimana membangkitkan daya leadership tersebut terutama untuk menciptakan lingkungan kerja yang minim resiko.

Scott Geller dalam bukunya “The Psychology of Safety Handbook” mengatakan bahwa risiko terbesar K3 dalam suatu lingkungan kerja adalah ketiadaan kemampuan memimpin diri sendiri untuk mencapai prinsip-prinsip K3. Kata kunci disini adalah ketiadaan kemampuan memimpin diri sendiri dan prinsip-prinsip K3.

Ketiadaan kemampuan memimpin diri sendiri menurut Schein – Organizational Culture and Leadership  dimaksud adalah sebagai belum berkembangnya daya leadership seseorang menurut pola yang telah disusun, diatur, dan dijalankan oleh organisasi agar diikuti oleh seluruh anggotanya. Sementara prinsip-prinsip K3 bila dijabarkan menurut Frank Bird – Practical Loss Control Leadership – dimaksud sebagai pelaksanaan semua daya manusia untuk menghindarkan segala hal dari semua bentuk kerugian yang ada.

Ada benang merah yang menarik antara pandangan Geller, Schein, dan Bird yaitu tentang adanya Pattern (Pola), Habitualization (Pembiasaan) & Measurement (Pengukuran) :

  1. Pattern (Pola), Pola merupakan hal mendasar dan kritikal dalam membangun daya leadership manusia. Setiap manusia sejatinya memiliki daya leadership ini namun bila manusia tersebut diberikan suatu model pola tertentu maka daya leadership yang muncul juga akan mengikuti pola tersebut. Pola kerap membangun persepsi lewat sistem kognitif manusia. Sebagai contoh : lampu lalu lintas yang hanya memberikan 3 pola (dalam hal ini dapat diartikan sbg jenis warna (warna merah, warna kuning, dan warna hijau) kepada kognisi untuk membangun persepsi pengendara kendaraan. Daya leadership pengendara (dari persepsinya sendiri) muncul merespon pola tersebut dengan cara menghentikan laju atau malah melajukan laju kendaraannya. Persepsinya akan memberikan gambaran hasil positif dan negatif atas respon dari leadership yang muncul tsb.Dalam organisasi, salah satu pola yang dikembangkan adalah siklus Plan-Do-Check-Action (PDCA) ada juga pola yang dikembangkan misalnya just culture (suatu pola yg menekankan aspek reporting hazard dan incident). Pola PDCA akan mengarahkan persepsi guna memicu daya leadership untuk melakukan perencaan dulu dalam kegiatan apapun terkait dengan K3(Plan), selanjutnya persepsi akan meminta daya leadersip untuk menjelaskan perencanaan itu kepada semua pihak dan menjalankan bersama semua pihak tersebut (Do), Check akan mendorong persepsi untuk menjalankan daya leadership melakukan pengawasan, dan Action akan menekan persepsi supaya daya leadership bertanggungjawab untuk melakukan evaluasi dan menentukan langkah perbaikan jika ada penyimpangan. Jadi jelas bahwa Pattern sangat menentukan persepsi dan persepsi akan membangkitkan daya leadership.Bagaimana organisasi melakukan pembiasaan tersebut adalah melalui penciptaan rules, norm, dan mechanism. Rules akan membuat daya leadership setiap karyawan terpicu untuk mengikuti apa yg telah organisasi tetapkan dan itu dibiasakan untuk dipatuhi setiap mereka datang ke organisasi tersebut. Sementara norm dan mechanism, membentuk persepsi DO dan DON’T yang pada akhirnya akan membawa daya leadership untuk menjalankan DO dan menghindari DON’T.
  2. Habitualization (Pembiasaan), Pembiasaan merupakan langkah kunci untuk membentuk leadership. Ivan Pavlov membuktikan lewat percobaannya bahwa dengan pembiasaan yang terpola (lagi-lagi Pola yang dikedepankan) maka akan menciptakan perilaku yang tepat. Perilaku adalah salah satu aspek leadership yang tampak dan terukur.
  3. Measurement (Pengukuran), Leadership has always a weakness without any measurement this kind of leadership will lead to disaster incident – Prof Andrew Hopkins dalam bukunya Disastrous Decisions. Daya leadership seseorang merupakan hal yang bisa diukur, terutama pada sisi sikap dan perilakunya. Pengukuran terhadap yang paling sederhana adalah menggunakan pendekatan “Write what you do and Do what you write“. Pendekatan ini terasa sederhana sekali namun hampir semua perusahaan tidak ada yang mampu mencapai 100% mengenai hal tersebut. Bahkan yang terkadang yang fatal adalah apa yang tertulis justru itulah yang dilanggar sementara apa yang tidak tertulis itulah yang dijalankan. Kalau yang tidak tertulis kerap dijalankan maka sesungguhnya daya leadership orang tersebut sedang menyiapkan bencana besar sebab perilaku dan sikap tidak bisa diukur dan bila perilaku dan sikap tersebut tidak bisa diukur maka jangan pernah berharap ada perbaikan (improvement) yang terjadi. Dan ini sesuai dengan quote Prof Hopkins tersebut.

Sebenarnya dimensi membangkit dimensi daya leadership banyak aspeknya namun untuk kali ini penulis hanya memaparkan 3 hal yang penting berdasarkan pandangan ilmiah 3 orang tersebut.

 

Referensi :

http://andryzsafer.blogspot.com/2016/02/bagaimana-membangun-leadership-k3.html

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp WhatsApp Kami