Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

LOPA ( Layer of Protection Analysis)|| Sebelum anda meembaca artikel ini samapi habis, kami sarankan untuk sipakan kopi dan camilan seperlunya. Sebab artikel kali ini cukup terbilang pembahasan panjang. Naum masih sangat bermanfaat untuk mengetahui pengertian sebuah metode bernama LOPA.

LOPA merupakan sebuah metode yang dikembangkan & disederhanakan dari penilaian risiko dan menyediakan jalan tengah yang tentunya sangat dibutuhkan antara proses analisis bahaya kuantitatif & kualitatif dimana umumnya menggunakan urutan kategori untuk Frequensi Kejadian, Tingkat keparahan Konsekuensi dan kemungkinan kegagalan lapisan perlindungan independen (IPLs) ke perkiraan risiko skenario, analisis ini dibangun di atas informasi yang dikembangkan oleh analisis kualitatif seperti PHA (Process Hazards Analysis).

LOPA pada umumnya digunakan pada beberapa industri yang melibatkan berbagai macam proses dan bahan kimia yang mengadopsi filosofi dari Theory Swiss Cheese Models – James Reason, 1990. (Setiap tahapan dalam proses memiliki potensi untuk mengalami kegagalan, analogi yang dikembangkan adalah dengan setumpuk irisan keju swiss dimana mempertimbangkan setiap lubang pada masing-masing irisan sebagai “defensive layers” dalam proses.

Kesalahan memungkinkan masalah melewati lubang di satu lapisan, tetapi di lapisan berikutnya lubang berada di tempat yang berbeda dengan variasi dimensi besar yang berbeda. Setiap lapisan adalah pertahanan terhadap potensi kesalahan yang berdampak hasilnya).

Tujuan dari Layer of Protection adalah sebuah upaya untuk menentukan apakah ada lapisan yang cukup untuk perlindungan terhadap sekenario kecelakaan yang mengakibatkan dampak yang luar biasa atau dengan kata lain untuk mengurangi tingkat resiko yang diprediksi untuk muncul dan dapat berpotensi untuk menciptakan suatu kecelakaan yang bersifat katastropik.

Dalam LOP ada 2 hal utama yang perlu diperhatikan, yaitu Initiating Event (pemicu terjadi hazards) dan Indepent Protection Layer (IPL) (safeguard atau dikenal juga dengan “pelindung”). Resiko dari suatu hazard dianalisis mulai dari Initiating Event hingga seberapa besar dampak memberikan probabilitas keparahan pada manusia, property, dan lingkungan. 
LOPA diterapkan setelah konsekuensi yang tidak dapat diterima dan penyebab kredibel ditentukan yang kemudian memberikan urutan besarnya perkiraan risiko dari skenario.

Setelah sebab-akibat ditentukan untuk dianalisis, analis dapat menggunakan LOPA untuk menentukan teknik dan administrasi kontrol mana yang memenuhi definisi IPLs, dan kemudian memperkirakan bagaimana penurunan risiko dari scenario kecelakaan tersebut. Hasilnya kemudian dapat diperluas untuk membuat penilaian risiko dan untuk membantu analis memutuskan berapa banyak pengurangan risiko tambahan yang mungkin diperlukan untuk mencapai tingkat risiko yang dapat ditoleransi.

Indepent Protection Layer (IPL) tentunya dianalisis untuk menentukan seberapa besar tingkat kegagalan safeguard yang menjadi Indepent Protection Layer  pada saat menjalankan fungsinya sebagai lapisan pertahanan. Secara fungsi, safeguard yang dipilih sebagai Indepent Protection Layer  harus memiliki kriteria sebagai berikut Spesific, Independent, Dependable, Auditable Indepent, Efektif dan Auditable Cara kerja Indepent Protection Layer sendiri dapat diilustrasikan sebagai berikut : 

Tingkat ketidakmampuan Indepent Protection Layer menjalankan fungsinya saat dibutuhkan dikenal dengan istilah Probability Failure on Demand (PFD) merupakan ukuran bagi Indepent Protection Layer, saat Indepent Protection Layer tersebut diaplikasikan sebagai safeguard / pelindung untuk mencegah dan/atau memitigasi resiko yang muncul dari initiating event.

Tingkat resiko suatu peristiwa yang dianalisis pada akhirnya merupakan perpaduan dari Initiating Event, Probability of Consequences, dan Indepent Protection Layer.

LOPA pada umumnya diterapkan pada sistem serta pengamanan yang sudah terpasang atau digunakan dan analisis ini lebih cenderung untuk melihat suatu kelemahan pada sebuah sistem dan mengevaluasi risiko yang ditimbulkan.
Layer of Protection Lapisan Perlindungan didefinisikan sebagai serangkaian elemen independen yang berhubungan dengan proses perancangan dan pemeliharaan. Sebagai contoh: Process (Inherently Safer Design), Process Design, BPCS, Alarm/Operator Action, Automatic Action (SIS o ESD), Active/Passive Protection (E.g. PPE), Plant Emergency Respons, Plant Emergency Procedure, Community Emergency Response, etc. LOPA harus spesifik kasus per-kasus. Namun, faktanya tidak ada lapisan yang efektif dan sempurna sehingga dibutuhkan lapisan perlindungan tambahan yang harus disediakan untuk membuat risiko dapat ditoleransi, alternatif meliputi perancangan inheren yang aman dan dapat dievaluasi. Setiap modifikasi lapisan maka risiko dievaluasi, dengan perbedaan mitigation effect on likelihood or Severity. pada umumnya dampak/tingkat keparahan dari mitigation effect lebih tinggi untuk penanggulangan inherently or passive process design terutama pada peralatan mekanikal, elektronik dimana mereka harus mempertimbangkan dengan high level of reliability. Penerapan LOPA, Step by step
Langkah-langkah dasar untuk penilaian risiko LOPA biasanya adalah

  1. Mengidentifikasi konsekuensi atau dampak
  2. Menentukan kriteria toleransi risiko
  3. Menentukan skenario kecelakaan yang relevan
  4. Menentukan frekuensi kejadian awal
  5. Mengidentifikasi kondisi dan memperkirakan PFD 
  6. Memperkirakan intermediate frequency of unmitigated consequence
  7. Mengidentifikasi IPLs dan memperkirakan probabilitas kegagalan pada setiap IPL
  8. Menentukan Frekuensi konsekuensi yang telah dikurangi
  9. Mengevaluasi kebutuhan IPL Tambahan

Langkah-langkah dasar dari metode ini adalah sebagai berikut 1. Mengidentifikasi konsekuensi: Konsekuensinya, dalam studi LOPA, didefinisikan sebagai “konsekuensi potensial yang tidak diinginkan dari skenario kecelakaan”. Akibatnya operator harus mempertimbangkan tidak hanya efek langsung atau tidak langsung pada karyawan, lingkungan, properti, material bahkan dampak terburuk terhentinya proses kegiatan perusahaan. Pada FMEA atau FTA, studi Lopa difokuskan pada event tertentu, atau lebih baik, skenario. Lopa biasanya diterapkan pada skenario tunggal diidentifikasi oleh Analisis Identifikasi Hazard. Analis Lopa (s) langkah pertama adalah untuk menyaring skenario kecelakaan potensial. Risiko skenario dapat dinilai secara kualitatif oleh tim HAZOP. metode skrining yang paling umum didasarkan pada peringkat konsekuensinya. 2.Determinate Kriteria Toleransi Risiko (RTC): Setelah itu skenario yang tidak diinginkan telah diperiksa, secara kita dapat mengidentifikasi yang paling berbahaya? Ambang toleransi risiko harus diidentifikasi sesegera mungkin pada data yang dikumpulkan dari skenario yang berbeda. Untuk mengevaluasi tingkat risiko yang berbeda dari masing-masing skenario, sebuah Kriteria toleransi risiko baik harus diidentifikasi. RTC (Risk Tolerance Criteria) memberikan titik acuan untuk menilai status masing-masing skenario kecelakaan yang relevan. Kriteria toleransi risiko dapat ditentukan oleh Risk Matrix (Frekuensi vs Severity), Maksimum Risiko yang diijinkan, Jumlah minimum dari IPLs untuk setiap skenario tertentu dan Maksimum risiko kumulatif  untuk a single node or area.

Untuk mencapai hasil yang konsisten, perusahaan harus menentukan kriteria toleransi risiko sebelum menerapkan LOPA. Tanpa kriteria toleransi risiko, ada kecenderungan untuk terus menambahkan perlindungan untuk setiap ide baru untuk perlindungan, di bawah asumsi yang salah bahwa keselamatan terus ditingkatkan. Sebuah skenario insiden, atau lebih baik, kejadian yang tidak direncanakan, penyebab atau urutan yang memicu peristiwa yang mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Setiap skenario ditandai dengan kejadian tunggal (single event), seperti FTA atau ETA.
Setiap Skenario disusun oleh setidaknya dua elemen: Initiating event yang dimulai rantai utama kejadian dan  Consequence yang dihasilkan jika rantai peristiwa terus tanpa gangguan (without any successfully working safeguard)
Kategori yang paling umum dari Initiating event  adalah  (Plant event : General Equipment Failure, General Control Failure, Mechanical Failure, Corrosion, Maintenance Failure, Vibration Failure and etc) (Human Failures: General Human Error, Inexperience Failure, Procedure Failure, Maintenance Failure, Loading Failure, System Response Error and etc) (Other Event: External Elements, Earthquake, Hurricane, Flood or others natural Events and etc) Jika single Initiating Event  menghasilkan beberapa konsekuensi, maka setiap konsekuensi harus dinilai dalam skenario yang berbeda yang kemudian menghasilkan beberapa analisis.
3. Initiating Event Frequency Untuk memulai penilaian diperlukan frekuensi atau kemungkinan dari kejadian awal. biasanya, frekuensi diberikan oleh: sumber internal, sumber eksternal atau menghubungi produsen ketika frekuensi diperlukan dalam item tertentu. dalam beberapa kasus Initiating event dihasilkan dari beberapa sumber (multiple sources). dalam beberapa kasus pula semua frekuensi dari kejadian harus dipertimbangkan dan menggabungkannya dengan fungsi logika (“OR” seperti analisis FTA).
Frekuensi Initiating event adalah point penting dalam penelitian dan insial data awal yang dapat diandalkan serta dapat mempertahankan konsistensi penilaian. Frekuensi Initiating event biasanya dinyatakan dalam kejadian per tahun, tetapi banyal pula yang saya dapatkan pada unit lainnya menggunakan kejadian jam kerja per tahun atau kejadian per 8000 tahun. Sehingga tidak ada batasan tentang frekuensi unit yang digunakan tapi memastikan bahwa semua frekuensi dan faktor lainnya didasarkan pada skala yang sama.
di beberapa perusahaan telah menyediakan data standar sebagai referensi dan rujukan. dengan mechanical integrity, incident investigation procedures, termasuk kemampuan untuk mengumpulkan data dan menganalisa data sehingga kredibilitas data dari tingkat kegagalan dapat diperoleh.Jika data kegagalan dinyatakan sebagai probability of failure on demand (PFD), Initiating event harus diturunkan serta menggunakan estimasi jumlah kali per tahun dimana demand ditempatkan pada sistem atau orang dan biasanya agak sederhana menghitung jumlah waktu operation yang dilakukan per tahun dan mengalikan dengan PFD. Untuk peralatan, frekuensi Initiating event  dihitung dengan mengalikan PFD dengan jumlah peralatan (pump, compressor, seal, instrument) atau dengan panjang pipa (dengan asumsi dua nilai tidak saling bergantung).

Table: Typical failure rate data (LOPA/CCPS)
FailurePFD
pressure vessel residual failure10-7 < f < 10-5 per year
atmospheric tank failure10-5 < f < 10-3 per year
piping residual failure full breach10-8 < f < 10-7 per year and meter
piping residual failure 10% section10-6 < f < 10-5 per year and meter
Gasket/packing blow out10-6 < f < 10-2 per year
Pump seal failure10-2 < f < 10-1 per year
Unloading/loading hose failure10-2 < f < 10-0 per year
BPCS (loop failure)10-2 < f < 10-0 per year
Regulator failure10-1 < f < 10-0 per year
Operator (routine, well trained, unstressed, not fatiqued)10-3 < f < 10-1 per opportunity

4. Conditions, Conditional Modifiers
Analisis skenario itu perlu untuk dievaluasi pada setiap jenis kondisi yang dapat mengurangi atau memperburuk situasi seperti: Probability of Ignition, Probability of Presence of People, Probability of Escape, Probability of absence of Operator and others
Faktor-faktor tersebut memodifikasi tingkat kemungkinan dari kejadian awal atau tingkat konsekuensi.Mitigasi atau “aggravation factor” adalah satu-satunya faktor dari IPLs atau Kegagalan. Terutama mengingat penilaian harus dilakukan ahlinya agar mampu menghindari atas perkiraan efek mitigasi
5. Frequency of Unmitigated Events

6. Independent Protection Layer
Sebagai  independent Protection Layer ini dianggap sebagai perangkat, sistem atau tindakan yang mampu mencegah (sepenuhnya atau sebagian) skenario dari berkembangnya, terganggunya rantai peristiwa/kejadian yang tidak diinginkan. Penting, untuk IPL : perangkat tidak harus dimasukkan dalam studi sebagai layer. analisis dapat disederhanakan, LOPA diidentifikasi hanya sebagai sistem keselamatan independen atau barang atau prosedur yang efektif.
berikut ini agar dapat dipertimbangkan sebagai IPL, perangkat, sistem atau tindakan yang dapat memicu gangguan skenario. Jadi fitur utama yang diperlukan dari IPL adalah: Efektif, Independen dan dapat diaudit (keandalan tersebut juga harus dinilai)
Efektivitas dari IPL diukur dari segi PFD nya yang didefinisikan sebagai probabilitas bahwa IPL akan gagal untuk melakukan fungsi tertentu pada permintaan. IPL PFD adalah angka berdimensi antara 0 dan 1. Semakin kecil nilai IPL PFD, semakin besar penurunan frekuensi konsekuensi untuk memulai frekuensi peristiwa tertentu. nilai IPL PFD berkisar dari IPL terlemah ke IPL terkuat, nilai-nilai dari PFDs biasanya mengutip skala terdekatnya.

Typical probability of PFD values (acc. IEC 61511-3)
#Independent Protection LayerPFD
1Regulator10-1
2Pressure relief device10-2
3Operator response (educated, no stress)10-2
4Operator response (under high stress, average training)5 x 10-1 … 10-0
5Operator response to alarms and procedures (low stress, recognised event)10-1
6Inherent design of vessels with pressure10-4

Calculation :
Persamaan umum untuk penentuan frekuensi untuk skenario, dengan konsekuensi tertentu, itu adalah sebagai berikut:

Untuk mencapai tingkat akurasi yang tinggi dan kehandalan, PFDs harus dipilih dengan perhatian dan menghindari pengulangan serta memastikan langkah-langkah keamanan dapat bertindak sebagai penanggulangan untuk skenario.

Referensi :

  • https://www.youtube.com/watch?v=PF92NT-a338
  • https://www.youtube.com/watch?v=-FBiFbJsjFg
  • https://www.facebook.com/roslinormansyah.ridwan?fref=ts
  • http://www.aiche.org/academy/courses/ela109/layer-protection-analysis-lopa

Seumber Artikel : https://andryzsafer.blogspot.com

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SEMUA PELATIHANNYA BULAN JUNI DISKON 50%, BURUAN DAFTARSungguh virus corona membuat suasana makin membosankan. Tapi jangan khawatir, kami hadir untuk menjadi solusi. Diam di rumah tapi tetap produktif, dengan mengikuti e-training dari Prashetya Quality :)
SELENGKAPNYA
WhatsApp Kami whatsapp