Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Mematangkan Budaya K3 dimasa Pandemic Covid-19

Perjuangan kita melawan Covid-19 belum juga berakhir, terbukti dari data kasus covid-19 di Indonesia yang dari hari ke hari terus bertambah. Namun, hal itu tentunya tidak menyurutkan sama sekali niat kita dalam memerangi pandemic ini.

Oleh karena itu, kami mencoba membagikan sebuah artikel dari beberpa sumber sebagai bekal untuk para pekerja, ataupun tempat kerja untuk menghadapi pandemik ini. Berikut uraian Mematangkan Budaya K3 dimasa Pandemic Covid-19 :

Tahap Patological

Pada tahap ini dikatakan bahwa organisasi tidak peduli dengan penerapan keselamatan dan Kesehatan kerja (K3).  Alih-alih, memberikan program pelatihan yang mumpuni dan perlindungan Kesehatan kepada karyawannya, organisasi/perusahaan pada level ini hanya memiliki orientasi bisnis semata.  Kalaupun terjadi kecelakaan kerja ataupun ditemukannya kasus positif Covid-19 pada karyawannya, maka cenderung disembunyikan.  Karena sesuai dengan peraturan, jika ada salah satu karyawan yang dinyatakan sebagai PDP maka perusahaan harus di tutup selama 14 hari.  Perusahaan tentunya akan ketakukan jika kasus ini diketahui oleh pihak eksternal.  Perusahaan terus menggenjot produktivitas tanpa memperhatikan protokol-protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Perusahaan tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait dengan bekerja selama masa pandemic, tidak ada himbauan atau informasi yang diberikan kepada karyawan, tidak ada pengecekkan kondisi Kesehatan karyawan misalnya temperature tubuh dan gejala lain pada karyawan serta tindakan-tindakan lainnya yang sebenarnya diperlukan sebagai upaya identifikasi dan pencegahan penularan covid-19 di tempat kerja.

Tahap Reactive

Pada tahap ini dikatakan bahwa organisasi peduli dengan K3 jika terjadi kecelakaan atau adanya kasus positif Covid-19.  Mereka baru mulai sibuk dan bertindak setelah ditemukannya kasus.  Perusahaan mulai panik dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan/ aturan dan tindakan-tindakan lainnya agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang semakin besar pula.

Perusahan juga tidak memikirkan ada potensi kelangkaan masker, thermometer dan berbagai kebutuhan lainnya yang diperlukan.  Akhirnya perusahaan terjebak dengan kepanikan untuk mencari kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan harga yang 2 (dua) bahkan beberapa kali lipat dari biasanya.  Ketika perusahan-perusahaan lain sudah mulai melakukan pengecekkan temperature tubuh, perusahaan ini masih sibuk mencari termometernya.

Tahap Calculative

Pada tahap ini organisasi sudah mulai mengumpulkan data terkait K3 dan menganalisisnya.  Pada tahap ini ada kecenderungan unsur administrative lebih kuat.  Sehingga dapat dikatakan bahwa pada tahap ini, manajemen punya andil yang sangat besar.  Pada tahap ini manajemen lebih menekankan pada pemberiaan sanksi dibandingkan dengan menjaga pekerja.  Pada tahap ini, middle level cenderung banyak mengambil peran.  Salah satunya misalnya melakukan pengawasan terhadap kepatuhan pekerja dalam menggunakan APD.  Pekerja yang tidak menggunakan APD kemudian ditegur sampai diberikan sanksi agar mematuhi apa yang sudah ditetapkan.

Pada tahap ini, umumnya manajemen berfokus kepada pemenuhan regulasi yang sifatnya mandatory dan akan berdampak ke bisnis.  Urusan mengenai Covid-19 di tempat kerja diserahkan kepada bagian K3 saja.

Pekerja di monitoring kondisi kesehatannya dengan cara diminta mengisi suatu kuesioner yang mendeskripsikan kondisinya saat itu, penyediaan hand sanitizer, thermometer dsb.  Karyawan juga dilarang untuk pulang kampung atau mudik, bagi yang melanggar maka akan diberikan sanksi atau tindakan-tindakan lain yang diperlukan.  Ya, memang pada tahap ini manajemen mengambil kendali lebih akibat masih kurang kuatnya pemahaman K3 pada unsur pekerja.  Pekerja masih perlu di monitoring terkait dengan ruang geraknya (terkait mudik misalnya).

Tahap Proactive

Pada tahap ini sebenarnya para pemimpin dan pekerjanya sudah mulai menyadari akan pentingnya penerapan K3.  Pekerja pun sudah mulai terlihat mengambil inisiatif dibandingkan hanya menunggu perintah dalam penerapan K3.  Misalnya, antar pekerja sudah saling mengingat dan dapat memberikan himbauan ke rekan kerja lainnya.

Pada tahap ini, pimpinan dan pekerja secara aktif telah menjalankan protocol kesehatan atau melakukan antisipasi Covid-19 ditempat kerja.  Semua pihak selalu memperhitungkan risiko yang dihadapi dalam bekerja.  Dalam tahap ini dapat dikatakan bahwa kebijakan, dan sarana prasarana sudah disediakan.  Secara bertahap penerapan Physical Distancing pun sudah dijalankan dengan benar dan secara konsisten dilakukan tidak hanya di tempat kerja tapi juga saat berada di lingkungan tempat tingga.  Pekerja memahami risiko yang akan dibawa ke tempat kerja jika tidak menerapkan social distancing di lingkungan tempat tinggal.  Pekerja juga sudah memahami risiko yang terjadi jika mereka mudik/ pulang kampung tanpa perlu dilakukan monitoring secara ketat.

Setiap bagian melakukan review terhadap aktivitas pekerjaan yang dilakukannya.  Jika ada potensi penularan maka dilakukan perbaikan.  Sehingga terbaikan praktik kerja yang aman selama masa pandemic Covid-19 ditempat kerja. 

Tahap Generative

Pada tahap ini sebenarnya seluruh elemen sudah berpartisipasi aktif.

Pada tahap ini, Misalnya Ketika kasus Covid-19 baru di Kawasan China, perusahaan sudah melakukan segala persiapan untuk melindungi pekerja.  Segala risiko sudah mulai di identifikasi mulai dari potensi kelangkaan masker, thermometer dan segala kebutuhan lainnya.  Bukan hanya bagi pekerja, Perusahaan bahkan mungkin sudah menghitung berapa kebutuhan masker bagi keluarganya untuk beberapa bulan kedepan jika kasus benar-benar terjadi di Indonesia. Manajemen menganggap bahwa Ketika pekerja bisa menggunakan masker namun keluarganya sulit untuk menggunakan masker maka pelaksanaan program di tempat kerja tidak akan optimal.  Budget untuk rapid test bahkan PCR mungkin sudah dipersiapkan oleh manajemen.  Artinya dalam hal ini, manajemen bukan hanya monitoring karyawan yang ODP, PDP ataupun Positif Covid-19 namun secara keseluruhkan karyawan.

Manajemen Bersama pekerja juga sudah melakukan persiapkan terhadap kemungkinan pelaksanaan work from home (WFH).  Pekerja berpartisipasi aktif dalam mempersiapkan semua hal ketika WFH benar-benar dilaksanakan.  Misalnya bersama-sama dengan tim IT mempersiapkan packing personal computer atau Laptop dsb untuk pelaksanaan WFH.

Secara  sukarela pekerja sudah mulai mempersiapkan hal tersebut dengan mengikuti perkembangan mengenai penyakit tersebut baik gejala, cara penularan dan pencegahan sudah diketahui oleh pekerja.  Sehingga pada tahap ini, semua pekerja di perusahaan pada tahap ini dapat menjadi contoh atau role model dimasyarakat tempatnya tinggal dalam upaya pencegahan penularan dimasyarakat atau lingkungan tempatnya tinggal.  Karena pada tahap ini, harapannya makna K3 juga dibawa sampai dengan kehidupan bermasyarakat.  Selain itu, antar karyawan saling tolong menolong untuk mematuhi ketentuan yang berlaku dan saling mengingatkan serta memperhatikan dan menjaga keselamatan satu sama lain.

Jika dikaitakan dengan status OTG, ODP, PDP dan Positive Covid-19.  Ke lima tahap tersebut mungkin bisa anologikan sebagai berikut:

  • Tahap Patological : Budaya K3 di perusahaan yang tidak peduli dengan kesemua kondisi tersebut. Jika ditemukan kasus cenderung disembunyikan agar bisnis tetap berjalan.
  • Tahap Reactive : Budaya K3 di perusahaan yang baru bergerak dan mengambil tindakan jika sudah ditemukan kasus baik pekerjanya dinyatakan ODP, PDP dan/ atau Positive Covid-19
  • Tahap Calculative : Budaya K3 di perusahaan yang berfokus kepada pemenuhan regulasi walaupun sebenarnya belum ditemukan kasus baik ODP, PDP dan/ atau Positive Covid-19 namun tindakan-tindakan pencegahan sudah mulai dilakukan. Setidaknya minimum requirement sudah dipenuhi. Pekerja diawasi ruang geraknya, seperti pemberian sanksi bagi yang melanggar.
  • Tahap Proactive: Budaya K3 di perusahaan yang sudah melakukan sejumlah tindakan sesuai regulasi, dan berusaha melakukan pengendalian terhadap OTG (Orang Tanpa Gejala), walaupun belum ditemukan kasus baik ODP, PDP dan/atau Positive Covid-19.  Mereka mengganggap ada potensi pada semua orang yang dapat membawa virus tersebut.  Sejumlah prosedur kerja juga dikembangkan agar bisa mematuhi protocol Kesehatan.
  • Tahap Generative: Budaya K3 di perusahaan yang sudah melakukan sejumlah tindakan yang melihat bukan hanya pada aspek pekerjanya, namun juga keluarga pekerja sebagai aspek yang perlu di lakukan pengendalian dan harus dibantu. Surveillance dilakukan secara konsisten, baik pada pekerja dan keluarganya.  Pekerja dan keluarganya juga menjadi role model di masyarakat. Semua berita baik dan buruk menjadi peluang untuk perbaikan.
sumber tulisan : https://hsepedia.com/kematangan-budaya-k3-dimasa-pandemic-covid-19/
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mungkin kamu kesulitan, atau butuh informasi terkait pelatihan kami. Tidak perlu sungkan-sungkan. Langsung saja chat kami sekarang :)
WeCreativez WhatsApp Support
HO Marketing
Adam Ari Palagan
Tersedia
WeCreativez WhatsApp Support
Dv. Marketing
Ana Agustiana
Tersedia